Tuesday, October 2, 2012

Bandara Komersial


Bandara Komersial

Bandar udara adalah lapangan udara termasuk segala bangunan dan peralatan yang merupkan kelengkapan minimal untuk menjamin tersedinya fasilitas bagi angkutan udara untuk masyarakat. Saat ini bandar udara selain berfungsi untuk melayani penumpang naik dan turun pesawat, dalam perkembangannya bandar udara telah menjadi sumber pendapatan lebih bagi bandara itu sendiri. Terdapat fasilitas – fasilitas yang ditambahkan seperti toko – toko, restoran, pusat kebugaan, dan butik – butik yang menjadikan bandar udara tersebut menjadi bandar udara komersial apalagi di bandara baru yang ingin menjadi atau telah bertaraf internasional.
Bandara merupakan fasilitas untuk melayan penerbangan oleh karena itu penyediaan fasilitas sama dengan penyedian bandara itu sendiri. Hal ini merupakan bagian dari bahasan tersendiri yaitu perencanaan bandara (airport planning). Bandara seperti suatu organisme yang hidup dengan tugas pelayanannya, sehinga penyediaan fasilitas itu untuk tujuan dinamika bandara itu yang berdwi fungsi yaitu operasi dan bisnis. Karena itu ditinjau dari segi manajemen bandara yaitu operasi dan bisnis berarti bandara harus menyediakan fasilitas-fasilitas untuk operasi bandara dan fasilitas untuk bisnis bandara. Dua hal yang berbeda tapi saling mengait konsisten dengan yang telah dikemukakan di atas bahwa kajian dibtasi pada fasilitas operasi bandara sedangkan tanpa bisnis bandara dalam bagian tersendiri.
Berbagai pendekatan untuk mengklasifikasi jenis fasilitas bandara diantaranya berdasarkan undang-undang. Dalam bahasan ini disiplin pendekatan sederhana untuk memudahkan pemahamannya karena sesungguhnya hanya hendak memperkenalkan fasilitas operasi udara dan kegunaan praktiknya.
Kalau dicermat secara fisik tampak penyediaan fasilitas operasi dapat dibedakan atas :
  
A.    Fasilitas Pokok Utama Operasi
     
Fasilitas pokok utama operasi yaitu bangunan fisik dan bagian bandara untuk beroperasi,terdiri dari :
1. Fasilitas sisi udara (airside facillity), antara lain :
a.Landasan pacu; 
b.Penghubung landasan pacu (taxiway); 
c.Tempat parker pesawat (apron); 
d.Runway strip; 
e.Fasilitas pertolongan kecelakaan penerbangan dan pemadam kebakaran;  
f.Marka dan Rambu; 

2. Fasilitas sisi darat (landside facility), antara lain : 
a. Bangunan terminal Penumpang; 
b. Bangunan terminal Kargo; 
c. Bangunan perasi; 
d. Menara pengawas lalulintas udara (ATC tower); 
e. Bangunan VIP; 
f. Bangunan meteorologi; 
g. Bangunan SAR; 
h. Jalan Masuk ( access road); 
i. Depo pengisian bahan baker pesawat udara; 
j. Bangunan administrasi / perkantoran 
k. Marka dan rambu


a.       Landasan Pacu (Runway)
Landasan pacu adalah tempat udara tinggal landas (take off) dan mendarat (landing). Landasan pacu merupakan persyaratan minimal suatu bandara yang terbentuk sederhana disebut Air strip (garis udara). Dalam ukuran yang lebih besar disebut Nain Strip.
Pemahaman landasan pacu sebagai fasilitas pokok dibandara dapat didefinisikan sebagai berikut : landasan pacu bagian dari bandara yang terbentuk segi 4 yang digunakan untuk keperluan pendaratan dan lepas landas pesaway udara di daerah tersebut.

i. Bagian dari landasan pacu
Pada suatu landasan pacu terdapat bagian yang merupakan daerah :
                   •  Shoulder (bahu landasan) yaitu area yang berada pada kiri atau kanan landasan pacu yang diperkeras dengan batas sampai lapisan tanah lainnya yang diperkecil
  Runway strip yaitu area yang ditetapkan yang di dalamnya terdapat runway dan stopway yang disediakan dengan tujuan mengurangi resiko kerusakan pesawat udara yang mengalami kejadian meluncur keluar dari landasan pacu dan untuk keselamatan pesawat udara yang terbang diatas area strip selama melakukan pendaratan atau lepas landas
  Stopway yaitu area segi empat yang disediakan diujung arah lepas landas yang digunakan untuk dapat menampung pesawat udara yang gagal melakukan lepas landas dan tidak dapat berhenti dilandasan pacu atau keluar dari landasan pacu atau berhenti bila terjadi penerbangan yang dibatalkan karena adanya gangguan ketidaknormalan atau kerusakan (failure) sehingga kerusakan yang berat pada pesawat udara dapat dihindari.
  Area approach adalah area yang berada disepanjang landasan pacu center line di luar strip berbentuk trapesium diatas approach slope diperuntukan jika pesawat udara yang melakukan pendaratan disuatu landasan pacu dengan ketinggian yang rendah.
  Clairway adalah area yang berbentuk empat persegi panjang yang terletak pada panjang runway center line dipersiapkan sebagai daerah di mana di atas daerah tersebut pesawat udara yang lepas landas dapat melaksanakan permulaan pendakian (initial climb) sampai ketinggian tertentu.

ii. Penampilan landasan pacu (Runway Performance)
Landasan pacu merupakan bagian yang fital dari bandara karena harus menampung kegiatan operasi penerbangan sesuai dengan kemampuannya beberapa hal yang terkait dengan penampilan antara lain :
  Pemberian Nama atau Nomor suatu Landasan Pacu : Satuan runway diberi nama atau nomor untuk mengenal disuatu bandara berdasarkan tata letak runway. Setiap landasan pacu mempunyai dua arah yang berlawanan arah 1800

  Declared Runway Distance : Dalam pengoperasian suatu landasan pacu disuatu bandara yang terkait dengan manuver pesawat udara yang akan lepas landas atau mendarat harus ditetapkan jarak atau panjang landasan pacu yang bersangkutan yang tersedia disebut declared runway distance. Untuk setiap arah landasan pacu, declared runway distance terdiri atas :
- TORA (Take Off Runway Available) yaitu panjang landasan pacu yang tersedia untuk ancang-ancang lepas landas adalah panjang seluruh landasan pacu dari ujung ke ujung. TORA = Panjang Landasan Pacu
- TODA (Take Off Distance Available) atau jarak lepas landas tersedia yaitu panjang landasan pacu ditambah bila ada clairway yang dapat digunakan untuk take off sampai pesawat udara mencapai ketinggian tertentu (kurang lebih 35 feet) diujung clearway. TODA = Panjang Landasan Pacu + Clearway (bila tersedia)
- ASDA (Accelarated Stop Distance Available) atau jarak percepatan henti tersedia yang panjang landasan pacu ditampah stopway (tambahan bila tersedia) yang dapat digunakan untuk menghentikan pesawat udara apabila mengalami gangguan (ketidaknormalan,kerusakan) pada waktu melakukan ancang-ancang lepas landas. ASDA = Panjang Runway + Panjang Stopway (bila tersedia)
- LDA (Landing Distance Available) atau jarak pendaratan tersedia yaitu panjang landasan pacu yang dapat digunakan untuk laju pendaratan dimulai dari threshold sampai ujung atau akhir landsan pacu. Dalam pengoperasian suatu runway kadang-kadang dialami posisi atau letak garis threshold bergeser karena ada halangan (obstruction) atau kerusakan pada sebagian dari landasan pacu sehingga digunakan garis threshold yang baru yaitu displaced threshold hal ini akan mengurangi panjang LDA dari landasan pacu tersebut. LDA = Panjang Landasan Pacu – Panjang displaced threshold (bila tersedia)

  Kekuatan Daya Dukung Landasan Pacu (Runway Strenght) : Untuk mengetahui kekuatan (daya dukung) suatu landasan pacu pada suatu bandara ditunjukan dengan Pavement Classification Number (PCN). PCN landasan pacu adalah angkasa yang menunjukan kapasitas (kemampuan) dari suatu landasan pancu untuk semua operasi penerbangan. Info untuk atau mengenai PCN (kekuatan) perlu dipublikasikan kepada semua aircraft operator atau airlinesdan dicantumkan dalam buku Aeronautikal Information Publication (AIP) yang diterbikan setiap negara atau dalam notam. 
Catatan : PCN harus dikolerasikan dengan tekanan roda pesawat udara yang menggunakan landasan pacu tersebut tiap jenis pesawat udara mempunyai Aircraft Classification Number (ACN). ACN adalah suatu angka yang memberikan pengaruh relatif disuatu jenis atau type pesawat udara terhadap suatu lapisan perkerasan (pavement) bagi suatu katagori fondasi tertentu. Kolerasinya adalah bahwa ACN dari pesawat udara yang akan menggunakan landasan pacu disuatu bandara ACN nya harus lebih kecil daripada PCN landasan pacu (ACN<PCN)

iii. Konfigurasi Landasan Pacu
Konfigurasi landasan pacu adalah jumlah dan arah (orientasi) dari landasan serta penempatan bangunan terminal termasuk lapangan parkir yang terkait dengan landasan. Jumlah landasan tergantung pada volume lalu lintas di bandara tersebut. Serta orientasi landasan tergantung pada arah angin dominan yang bertiup dengan mempertimbangkan luas tanah yang tersedia.
Macam – macam konfigurasi runway :
                             •  Landasan Tunggal : bentuk yang paling sederhana yang hanya terdiri dari satu landasan saja. Contohnya Bandara Internasional Juanda, Surabaya
                             •  Landasan Paralel : bentuk landasan yang terdapat dua landasan yang sejajar. Contohnya Bandara Internasional Soekarno-Hatta
                             •  Landasan Dua Jalur : terdapat dua landasan sejajar (jarak minimal 1000 feat) dan untuk landasan yang berdekatan dengan terminal untuk keberangkatan pesawat sedangkan yang jauh dari terminal untuk kedatangan pesawat
                             •  Landasan Berpotongan : yaitu suatu konfigurasi landasan pacu yang terdiri dari dua atau tiga landasan yang arahnya berbeda dan berbentuk persilangan. Jenis ini untuk sesuai untuk lokasi dimana arah angin berubah ubah arah sehingga arah pendaratan pesawat dapat dilakukan dengan mudah sesuai dengan kondisi arah angin.
                             •  Landasan V Terbuka : Landasan dengan arah divergen (berbeda arah) tetapi pada bagian kedua ujung landasan saling berdekatan (tidak saling berpotongan)

iv.  Elemen Dasar Landasan Pacu
                   •  Perkerasan stuktural : yang mempunyai kekuatan untuk keperluan tinggal landas dan pendaratan
                   •  Bahu landas : yang membatasi perkerasan stuktural yang berfungsi untuk menahan erosi akibat air dan semburan jet.
                   •  Area keamanan landasan (runway safety area) : meliputi perkerasan  stuktural.bahu landas, arean bebas halangan. Area ini harus dapat dilalui peralatan pemadam kebakaran, mobil ambulan, eruk penyapu landasan (sweeper), dan dalam kondisi memaksa mampu dibebani pesawat yag keluar dari perkerasan stuktural.
                   • Blast pad : yaitu area yang direncanakan untuk mencegah erosi pada permukaan yang berbatasan dengan ujung landasan berupa gebalan rumput.
                   •  Perluasan area keamanan (safety area) : sesuai dengan kebutuhan dan tingkat keselamatan yang diinginkan.

b.      Landasan Penghubung (Taxiway)
Landasan pacu (taxiway) adalah bagian dari bandara yang dignakan untuk menghubungkan landasan pacu dengan apron atau antara suatu lokasi lainnya dalam kaitan dengan manuver pesawat udara dengan menuju landasan pacu ataua sebaliknya. Fungsi dari sistem landasan penghubung adalah untuk mengatur proses pergerakan pesawat terbang dari apron menuju landasan pacu yang akan melakukan lepas landas (take-off) maupun pesawat terbang setelah melakukan pendaratan (landing) dan meninggalkan landasan pacu menuju apron. Hal yang mempengaruhi ukuran dari landasan penghubung adalah panjang bentang sayap (wing span), jarak antar roda pendarat utama (wheel tread), dan panjang badan pesawat terbang rencana.
          Panjang suatu landasan penghubung disesuaikan dengan kebutuhan operasional dan kepadatan lalu lintas di bandara yang bersangkutan. Pada bandara yang ramai traffic nya dilengkapi dengan pararel taxiway dan rapid exit taxiway guna dapat menampung kepadatan arus lalu lintas serta mengurangi keterlambatan dan delay.
Kekuatan landasan penghubung harus sama dengan kekuatan landasan pacunya jadi PCN Taxiway = PCN Runway. Demikian juga pesawat udara yang melewati atau menggunakan landasan penghubung harus mempunyai ACN sama tau lebih kecil dari PCN Taxiwaynya. Bila pesawat udara yang melewati landasanpenghubung, ACN-nya lebih besar dari PCN taxiway (misalnya ACN pesawat udara 501 sedngkan PCN taxiwaynya 401 maka akan merusak landasan penghubung tersebut) 
Yang termasuk sistem landasan penghubung adalah :
                   •  Exit Taxiway :  landasan penghubung yang digunakan oleh pesawat terbang setelah melakukan pendaratan untuk meninggalkan landasan pacu menuju apron
                   •  Entrance taxiway : landasan penghubung yang digunakan oleh pesawat terbang bergerak dari apron menuju landasan pacu untuk melakukan lepas landas
                   •  Holding Apron : yaitu apron yang dipergunakan untuk holding atau Run Up atau Warm Up. Fasilitas ini dipergunakan untuk pemanasan mesin atau cek akhir sambil menunggu perintah dari petugas lalu lintas udara (PLLU) untuk start lepas landas maka pesawat berikutnya dapat mendahului.
                   •  Holding Bay : yaitu apron yang tidak terlalu luas yang berlokasi di lapngan terbang unuk parkir pesawat smentara untuk antrian gate kosong. Holding bay diperlukan untuk kondisi lalu lintas pesawat yang tinggi sehingga kapasitas gate sangat terbatas dan tidak mengganggu sirkulasi pesawat di area lapangan terbang.
                                            
c.       Apron
Apron adalah bagian dari bandara yang digunakan untuk menempatkan pesawat udara yang menurunkan atau memuat penumpang, kargo serta untuk keperluan pengisian bahan bakar pesawat udara (refuelling), parkir pesawat udara atau perbaikan pesawat udara (Aircraft maintanance).
Kekuatan PCN apron = kekuatan PCN runway. Luas apron disesuaikan dengan kemampuan penampung pesawat udara pada waktu jam-jam sibuk (peak hour). Misalnya pada jam-jam sibuk terdapat 4(empat) buah pesawat jenis B-747 , 4(empat) buah pesawat jenis F-100, 5(lima) jenis B-737. Maka luas apron yang tersedia harus dapat menampung sejumlah pesawat tersebut.

Pola permakiran Pesawat Udara di Apron agar lebih efisien dapat menampung lebih banyak pesawat udara yang menggunakan apron, pihak pengelola bandara perlu mengatur pola parkir atau parking system pesawat udara di apron. Terdapat 4 (empat) pola parkir pesawat udara diapron, yaitu :
                   •  Nose-in Parking : Pesawat diparkir tegak lurus gedung terminal dengan bagian depan pesawat berjarak sedekat mungkin dengan terminal.
                   •  Angled Nose-in Parking : Pesawat diparkir dengan bagian depan pesawat menyudut ke arah terminal.
                   •  Angled Nose-out Parking : Pesawat diparkir dengan bagian depan pesawat menyudut menjauhi gedung terminal.
                   •  Paralel Parking : Pesawat diparkir sejajar gedung terminal.

Bentuk Apron ditentukan oleh letak sekelompok pesawat yang diparkir terhadap bangunan terminal, yang bentuknya antara lain adalah:
                   •  Sistem Frontal : Pesawat diparkir sepanjang halaman mika gedung terminal, hal ini memberikan jalan langsung dari pelataran depan gedung terminal menuju pintu pesawat
                   •  Sistem apron terbuka : Pesawat dan pelayanan pesawat letaknya terpisah dari terminal
                   •  Sistem Menjari ( Finger System ) : Letak pesawat diatur mengelilingi sumbu terminal dalam suatu pengaturan sejajar atau bagian depan pesawat mengarah ke terminal.
                   •  Sistem Satelit : Sistem dimana sebuah gedung yang dikelilingi oleh pesawat yang terpisah dari terminal dan biasanya dicapai melalui penghubung, dan biasanya pesawat diparkir dalam posisi melingkar.

d.      Gedung atau Bangunan
Setiap bandara tentunya memerlukan gedung atau bangunan yang berfungsi :
                   •  untuk pelayanan penumpang : disediakan gedung terminal
                   •  untuk pelayanan penerbangan : disediakan gedung operasi seperti menara PLLU (tower) atau gedung untuk kegiatan unit-unit PLLU, pelayanan,penerangan aeronautika, pelayanan meteorologi, pelayanan terhadap penerbangan.
                   •  Untuk fire fighting service (PKPPK)
                   •  Untuk pemeliharaan pesawat
                   •  Untuk menyediakan bahan bakar pesawat
Selain itu disediakan gedung untuk pengelola bandara untuk pengurusan administrasi umum dan komersial, administrasi operasi, administrasi teknik pemeliharaan bandara dilengkapi dengan pas, pelayanan VIP maupun publik meliputi restoran, pertokoan, pergudangan, hotel, dll sesuai dengan kebutuhan.

e.       Terminal
Bangunan terminal adalah suatu areal utama yang mempunyai interface antara landasan dan bagian lain dari bandara. Banguanan terminal merupakan penghubung prasarana sisi udara dan sisi darat pada sebuah badara. Pada bangunan ini terjadi beberapa kegiatan, yaitu :
                   •  Arus penumpang yang akan melakukan perjalanan.
                   •  Arus pengantar dan penjemput penumpang.
                   •  Pengurusan bagasi.
                   •  Administrasi yang berhubungan dengan penerbangan.

Berdasarkan fungsi tersebut, bangunan terminal dibagi menjadi 4 bagian (Horonjeff, 1993), yaitu :
1. Akses Interface : Adalah bagian bangunan terminal yang meliputi fasilitas untuk penumpang yang baru datang. Fasilitas - fasilitas yang dibutuhkan antara lain :
                             •  Tempat parkir kendaraan
                             •  Trotoar untuk pejalan kaki
                             •  Fasilitas - fasilitas untuk menurunkan barang
                             •  Tempat pemberhentian angkutan umum
2. Proses : Adalah tempat dilakukannya persiapan sebelum keberangkatan, yang memerlukan fasilitas - fasilitas sebagai berikut :
                             •  Check in area dan tempat informasi penerbangan.
                             •  Security check area.
                             •  Tempat pengontrolan dan pengambilan bagasi
  Lobi umum, tempat kedatangan dan lalu lintas penumpang,
  pengantar dan penjemput.
  Ruang keberangkatan sekaligus ruang tunggu penumpang.
  Kamar kecil
  Fasilitas untuk penderita cacat / sakit
                             •  Fasilitas - fasilitas tambahan, seperti kantin, telepon umum, tempat
  informasi hotel dan biro perjalanan, kantor pos, serta tempat
  ibadah.
3. Kawasan Penampungan : Pada umumnya sebagian waktu penumpang di terminal lebih banyak dihabiskan di luar kawasan pemrosesan, yakni pada saat penumpang menunggu serta periode antara berbagai kegiatan pemrosesam. Dengan memperhatikan bahwa kawasan ini menghasilkan pendapatan yang sangat berarti, maka perlu menyediakan tingkat pelayanan yang baik dan menyenangkan. Adapun fasilitas yang perlu disediakan adalah kawasan yang menampung publik, baik penumpang maupun pengantar. Diantaranya adalah :
                             •  Kawasan yang menampung penumpang pada saat check in.
                             •  Kawasan untuk penumpang menunggu sebelum berangkat. 
  Kawasan pelayanan penumpang, berupa toilet, mushola, telepon umum, ATM, dll.
  Kawasan penampungan pada saat penumpang datang, sementara menunggu pengambilan begasi.
  Kawasan yang diperuntukan bagi penumpang VIP
  Kawasan khusus bagi pengantar dan penjemput.
4. Sirkulasi Internal : Sirkulasi internal dipersiapkan untuk mengakomodasi pergerakan penumpang maupun bagasi. Pada prinsipnya penumpang pada sirkulasi internal harus memberikan kemudahan, kejelasan dan kelancaran.

Konsep Terminal
        Single Level Road / Single Level Terminal  : Pada bentuk ini penumpang yang datang atau berangkat diproses dalam gedung terminal pada lantai (floor) yang sama tetapi terpisah secara horizontal. Penumpang yang boarding ke pesawat udara melalui tangga yang tersedia.
        Single Level Road / Double Level Terminal : Pada bentuk ini penumpang yang datang atau berangkat diproses dalam gedung terminal biasanya pada lantai yang setingkat dengan jalan (road level) dengan ruang tunggu penumpangpada tingkat yang lebih tinggi , sehingga memungkinkan penumpang yang naik pesawat udara melalui loading bridge (garbarata)
        Double Level Road / Double Level Terminal : Pada bentuk ini jalan kendaraan untuk keberangkatan (departure) dan kedatangan (arrival) berada pada tingkat (floor) yang berbeda. Untuk memisahkan  proses penumpang yang datang atau dimana tingkat yang lebih tinggi untuk keberangkatan dan tingkat bawah untuk kedatangan

Konsep Terminal ditinjau dari Segi Pengembangan Bandara
        Konsep Sederhana : Pada konsep sederhana bentuk terminal namya merupakan suatu tempat untuk ruang tunggu dan counter ticket penumpang. Bentuk terminal ini cocok untuk bandara dengan kepadatan lalulintas yang rendah. Untuk keperluan airlines biasanya tempat parkir pesawat udara dekat dengan terminal (close in parking) dengan mempertimbangkan pengaruh hembusan angin bila digunakan system parkir nose in/nose out. Harus diperhatikan bahwa jarak pesawat udara dengan terminal tidak terlalu jauh untuk penupangg yang akan naik atau turun menuju ke terminal. Biasanya gedung terminal hanya merupakan bangunan dengan single level stucture.
        Konsep Linear : Menurut konsep ini terminal lebih luas dari simple consept yaitu dengan memperluas bagian depan apron, gates, dan ruangan yang lebih luasuntuk keperluan penumpang(pemprosesan penumpang). Menurut konsep terminal ini proses penumpang atau bagasi dapat dilakukan pada bagian tengah terminal, tetapi jika letak pintu. Pintu terminal terlalu jauh untuk penumpang berjalan maka dapat diatasi dengan pemasangan ban berjalan (people movers). Permarkiran dengan system nose in/ nose out dengan atau tanpa garbarata.
        Konsep Pier : Konsep ini mulai berkembang pada tahun 1950, ketika jalur pintu masuk perlu diadakan pada simple central building. Kemudian dikembangkan dengan bentuk yang lebih canggih, dibuat ruang tunggu pada pintu-pintu masuk penumpang, garbarata (boarding bridge) dan secara vertical terdapat pemisah antara fungsi checkin atau ticketing dengan fungsi pengambilan bagasi. Konsep pier memudahkan bagi penumpang berjalan di central building menuju pintu masuk pesawat udara diparkir sepanjang gedung pier. Berbeda dengan konsep satelite, konsep ini pesawat udara diparkir secara berkelompok diujung depan pintu masuk penumpang. Pada konsep ini penumpang baru berjalan cukup jauh
        Konsep Satelite : Bangunan terminal pusat untuk pemrosesan penumpang dan bagasi dan bangunan yang terletak agak jauh untuk parkir pesawat. Bangunan tersebut disebut  satellite dihubungkan dengan terminal utama termasuk lantai bawah dan atas. Sistem mekanikal biasanya digunakan untuk memindahkan penumpang antara  satellite  dan terminal utama. Bagasi penumpang berangkat dikumpulkan di  counter check-in  pusat dan diangkut ke area sortir bagasi kemudian diangkut ke pesewat dengan mobil peralatan apron atau sitem mekanikal. Penumpang datang dan bagasi mereka diproses dengan cara yang sama namun berlawanan
        Konsep Transporter : Transisi dari  landside ke  airside untuk penumpang dan bagasi melalui bangunan pusat dengan memakai mobil apron bagi penumpang ked an dari pesawat yang teretak jauh dari bangunan terminal. Penumpang berangkat diproses pada area pusat dan diterima di departure lounge yang umum ke mobil longe yang dekat yang berfungsi sebagai ruang tunggu dan diangkut ke tempat parkir pesawat  di apron terbuka. Bagasi untuk seluruh penumpang berangkat diterima di  counter check-in pusat dan diangkut ke area sortir bagasi dari mana diangkut lagi ke pesawat dengan mobil peralatan apron. Penumpang datang dan bagasi diproleh dengan sistem yang sama namum berlawanan.
        Compact Modul Unit Terminal
 
B.    Fasilitas Pokok Pendukung Operasi
Fasilitas pokok pendukung operasi yaitu sarana pendukung bandara beroperasi berupa peralatan yaitu :
1. Fasilitas navigasi penerbangan, antara lain. 
a. Non Directional Beacon (NDB) 
b. Doppler VHF Omni Range (DVOR) 
c. Distance Measuring Equipment (DME) 
d. Runway Visual Range (RVR) 
e. Instrument Landing System (ILS) 
f. Radio Detection and Ranging (RADAR) 
g. Very High Frequency-Direction Finder (VHF-DF) 
h. Differential Global Positioning  System (DGPS) 
i. Automatic Dependent Surveillance (ADS) 
j. Satelite Navigation System 
k. Aerodrome Surface Detection Equipment 
l. Very High Frequency Omnidirectional Range

2. Fasilitas alat Bantu pendaratan visual, antara lain : 
a. Marka dan rambu 
b. Runway lighting 
c. Taxiway lighting 
d. Threshold lighting 
e. Runway end lighting 
f. Apron lighting 
g. Prescision Approach path indicator (PAPI) /  Visual Approach slope indicator (VASI) 
h. Rotating beacon 
i. Apron flood light 
j. Approach lighting system 
k. Indicator and signaling device 
l. Circling guidance light 
m. Sequence flashing light 
n. Runway lead in lighting system 
o. Runway guard light 
p. Road holding position light 

3. Fasilitas komunikasi penerbangan, antara lain : 
                             a. Komunikasi antar stasiun penerbangan (Aeronautical Fixed Service/AFS): 
                                      1. Very high frequency (VHF) air ground communication
                                      2. Automatic Message Switcing Center (AMSC) 
3. Aeronautical fixed telecommunication Network (TELEX/AFTN) 
4. High Frequency-Single Side Band (HF-SSB) 
5. Direct peech 
6. Teleprinter

                             b. Peralatan komunikasi lalu lintas penerbangan (Aeronautical Mobile Service/AMS) : 
                                      1. High Frequency Air Ground Comminication 
                                      2. Very High Frequency Aier Ground Communication 
                                      3. Voice Switching Communication System 
                                      4. Controller pilot data link communication 
                                      5. Very High Frequency Digital link 
                                      6. Integrated Remote Control and monitoring System 
                                      7. Aerodrome terminal information system 
                            
c. Transmisi : 
                                      1. Radio Link 
                                      2. VSA
Disebut karena fasilitas pokok diartikan sebagai fasilitas wajib ada atau tanpa fasilitas tersebut tidak mungkin bandara beroperasi.

C.    Fasilitas Penunjang Bandar 
Fasilitas penunjang bandar udara yang melipuri antara lain :
1. Penginapan / hotel
2. Penyediaan toko dan restoran
3. Fasilitas penempatan kendaraan bermotor
4. Fasilitas perawatan pada umumnya ( antara lain perawatan gedung / perkantoran, perawatan operasional)
5. Fasilitas Pergudangan
6. Fasilitas perbengkelan pesawat udara
7. Fasilitas hangar
8. Fasilitas pengelolaan limbah
9. Fasilitas lainnya yang menunjang secara langsung maupun tidak langsung kegiatan Bandar udara.

No comments:

Post a Comment