Bandara Komersial
Bandar udara adalah
lapangan udara termasuk segala bangunan dan peralatan yang merupkan kelengkapan
minimal untuk menjamin tersedinya fasilitas bagi angkutan udara untuk
masyarakat. Saat ini bandar udara selain berfungsi untuk melayani penumpang
naik dan turun pesawat, dalam perkembangannya bandar udara telah menjadi sumber
pendapatan lebih bagi bandara itu sendiri. Terdapat fasilitas – fasilitas yang
ditambahkan seperti toko – toko, restoran, pusat kebugaan, dan butik – butik
yang menjadikan bandar udara tersebut menjadi bandar udara komersial apalagi di
bandara baru yang ingin menjadi atau telah bertaraf internasional.
Bandara merupakan fasilitas untuk melayan
penerbangan oleh karena itu penyediaan fasilitas sama dengan penyedian bandara
itu sendiri. Hal ini merupakan bagian dari bahasan tersendiri yaitu perencanaan
bandara (airport planning). Bandara seperti suatu organisme yang hidup dengan
tugas pelayanannya, sehinga penyediaan fasilitas itu untuk tujuan dinamika
bandara itu yang berdwi fungsi yaitu operasi dan bisnis. Karena itu ditinjau
dari segi manajemen bandara yaitu operasi dan bisnis berarti bandara harus
menyediakan fasilitas-fasilitas untuk operasi bandara dan fasilitas untuk
bisnis bandara. Dua hal yang berbeda tapi saling mengait konsisten dengan yang
telah dikemukakan di atas bahwa kajian dibtasi pada fasilitas operasi bandara
sedangkan tanpa bisnis bandara dalam bagian tersendiri.
Berbagai pendekatan
untuk mengklasifikasi jenis fasilitas bandara diantaranya berdasarkan
undang-undang. Dalam bahasan ini disiplin pendekatan sederhana untuk memudahkan
pemahamannya karena sesungguhnya hanya hendak memperkenalkan fasilitas operasi
udara dan kegunaan praktiknya.
Kalau dicermat secara fisik tampak penyediaan
fasilitas operasi dapat dibedakan atas :
A. Fasilitas Pokok Utama Operasi
Fasilitas pokok utama
operasi yaitu bangunan fisik dan bagian bandara untuk beroperasi,terdiri dari :
1. Fasilitas sisi udara (airside facillity),
antara lain :
a.Landasan pacu;
b.Penghubung landasan pacu (taxiway);
c.Tempat parker pesawat (apron);
d.Runway strip;
e.Fasilitas pertolongan kecelakaan penerbangan
dan pemadam kebakaran;
f.Marka dan Rambu;
2. Fasilitas sisi darat (landside facility),
antara lain :
a. Bangunan terminal Penumpang;
b. Bangunan terminal Kargo;
c. Bangunan perasi;
d. Menara pengawas lalulintas udara (ATC
tower);
e. Bangunan VIP;
f. Bangunan meteorologi;
g. Bangunan SAR;
h. Jalan Masuk ( access road);
i. Depo pengisian bahan baker pesawat
udara;
j. Bangunan administrasi / perkantoran
k. Marka dan rambu
a. Landasan
Pacu (Runway)
Landasan pacu adalah
tempat udara tinggal landas (take off) dan mendarat (landing). Landasan pacu
merupakan persyaratan minimal suatu bandara yang terbentuk sederhana disebut
Air strip (garis udara). Dalam ukuran yang lebih besar disebut Nain Strip.
Pemahaman landasan pacu sebagai fasilitas pokok
dibandara dapat didefinisikan sebagai berikut : landasan pacu bagian dari
bandara yang terbentuk segi 4 yang digunakan untuk keperluan pendaratan dan
lepas landas pesaway udara di daerah tersebut.
i. Bagian dari landasan
pacu
Pada suatu landasan pacu terdapat bagian yang
merupakan daerah :
• Shoulder (bahu landasan) yaitu area yang berada pada kiri atau
kanan landasan pacu yang diperkeras dengan batas sampai lapisan tanah lainnya
yang diperkecil
• Runway strip yaitu area yang ditetapkan yang di
dalamnya terdapat runway dan stopway yang disediakan dengan tujuan mengurangi
resiko kerusakan pesawat udara yang mengalami kejadian meluncur keluar dari
landasan pacu dan untuk keselamatan pesawat udara yang terbang diatas area
strip selama melakukan pendaratan atau lepas landas
• Stopway yaitu area segi empat yang disediakan
diujung arah lepas landas yang digunakan untuk dapat menampung pesawat udara
yang gagal melakukan lepas landas dan tidak dapat berhenti dilandasan pacu atau
keluar dari landasan pacu atau berhenti bila terjadi penerbangan yang
dibatalkan karena adanya gangguan ketidaknormalan atau kerusakan (failure)
sehingga kerusakan yang berat pada pesawat udara dapat dihindari.
• Area approach adalah area yang berada
disepanjang landasan pacu center line di luar strip berbentuk trapesium diatas
approach slope diperuntukan jika pesawat udara yang melakukan pendaratan
disuatu landasan pacu dengan ketinggian yang rendah.
• Clairway adalah area yang berbentuk empat
persegi panjang yang terletak pada panjang runway center line dipersiapkan
sebagai daerah di mana di atas daerah tersebut pesawat udara yang lepas landas
dapat melaksanakan permulaan pendakian (initial climb) sampai ketinggian
tertentu.
ii. Penampilan landasan
pacu (Runway Performance)
Landasan pacu merupakan bagian yang fital dari
bandara karena harus menampung kegiatan operasi penerbangan sesuai dengan
kemampuannya beberapa hal yang terkait dengan penampilan antara lain :
• Pemberian Nama atau Nomor suatu Landasan Pacu : Satuan
runway diberi nama atau nomor untuk mengenal disuatu bandara berdasarkan tata
letak runway. Setiap landasan pacu mempunyai dua arah yang berlawanan arah 1800
• Declared Runway Distance : Dalam pengoperasian
suatu landasan pacu disuatu bandara yang terkait dengan manuver pesawat udara
yang akan lepas landas atau mendarat harus ditetapkan jarak atau panjang
landasan pacu yang bersangkutan yang tersedia disebut declared runway distance.
Untuk setiap arah landasan pacu, declared runway distance terdiri atas :
- TORA (Take Off Runway Available) yaitu panjang
landasan pacu yang tersedia untuk ancang-ancang lepas landas adalah panjang
seluruh landasan pacu dari ujung ke ujung. TORA = Panjang Landasan Pacu
- TODA (Take Off Distance Available) atau jarak
lepas landas tersedia yaitu panjang landasan pacu ditambah bila ada clairway
yang dapat digunakan untuk take off sampai pesawat udara mencapai ketinggian
tertentu (kurang lebih 35 feet) diujung clearway. TODA = Panjang Landasan Pacu
+ Clearway (bila tersedia)
- ASDA (Accelarated Stop Distance Available)
atau jarak percepatan henti tersedia yang panjang landasan pacu ditampah
stopway (tambahan bila tersedia) yang dapat digunakan untuk menghentikan
pesawat udara apabila mengalami gangguan (ketidaknormalan,kerusakan) pada waktu
melakukan ancang-ancang lepas landas. ASDA = Panjang Runway + Panjang Stopway
(bila tersedia)
- LDA (Landing Distance Available) atau jarak
pendaratan tersedia yaitu panjang landasan pacu yang dapat digunakan untuk laju
pendaratan dimulai dari threshold sampai ujung atau akhir landsan pacu. Dalam
pengoperasian suatu runway kadang-kadang dialami posisi atau letak garis
threshold bergeser karena ada halangan (obstruction) atau kerusakan pada
sebagian dari landasan pacu sehingga digunakan garis threshold yang baru yaitu
displaced threshold hal ini akan mengurangi panjang LDA dari landasan pacu
tersebut. LDA = Panjang Landasan Pacu – Panjang displaced threshold (bila tersedia)
• Kekuatan Daya Dukung Landasan Pacu (Runway
Strenght) : Untuk mengetahui kekuatan (daya dukung) suatu landasan pacu pada
suatu bandara ditunjukan dengan Pavement Classification Number (PCN). PCN
landasan pacu adalah angkasa yang menunjukan kapasitas (kemampuan) dari suatu
landasan pancu untuk semua operasi penerbangan. Info untuk atau mengenai PCN
(kekuatan) perlu dipublikasikan kepada semua aircraft operator atau airlinesdan
dicantumkan dalam buku Aeronautikal Information Publication (AIP) yang
diterbikan setiap negara atau dalam notam.
Catatan : PCN harus dikolerasikan dengan tekanan
roda pesawat udara yang menggunakan landasan pacu tersebut tiap jenis pesawat
udara mempunyai Aircraft Classification Number (ACN). ACN adalah suatu angka
yang memberikan pengaruh relatif disuatu jenis atau type pesawat udara terhadap
suatu lapisan perkerasan (pavement) bagi suatu katagori fondasi tertentu.
Kolerasinya adalah bahwa ACN dari pesawat udara yang akan menggunakan landasan
pacu disuatu bandara ACN nya harus lebih kecil daripada PCN landasan pacu
(ACN<PCN)
iii. Konfigurasi
Landasan Pacu
Konfigurasi landasan pacu adalah jumlah dan arah
(orientasi) dari landasan serta penempatan bangunan terminal termasuk lapangan
parkir yang terkait dengan landasan. Jumlah landasan tergantung pada volume
lalu lintas di bandara tersebut. Serta orientasi landasan tergantung pada arah
angin dominan yang bertiup dengan mempertimbangkan luas tanah yang tersedia.
Macam – macam konfigurasi runway :
• Landasan Tunggal : bentuk yang paling sederhana yang hanya terdiri
dari satu landasan saja. Contohnya Bandara Internasional Juanda, Surabaya
• Landasan Paralel : bentuk landasan yang terdapat dua landasan yang
sejajar. Contohnya Bandara Internasional Soekarno-Hatta
• Landasan Dua Jalur : terdapat dua landasan sejajar (jarak minimal
1000 feat) dan untuk landasan yang berdekatan dengan terminal untuk
keberangkatan pesawat sedangkan yang jauh dari terminal untuk kedatangan
pesawat
• Landasan Berpotongan : yaitu suatu konfigurasi landasan pacu yang
terdiri dari dua atau tiga landasan yang arahnya berbeda dan berbentuk
persilangan. Jenis ini untuk sesuai untuk lokasi dimana arah angin berubah ubah
arah sehingga arah pendaratan pesawat dapat dilakukan dengan mudah sesuai
dengan kondisi arah angin.
• Landasan V Terbuka : Landasan dengan arah divergen (berbeda arah)
tetapi pada bagian kedua ujung landasan saling berdekatan (tidak saling
berpotongan)
iv. Elemen Dasar
Landasan Pacu
• Perkerasan stuktural : yang mempunyai kekuatan untuk keperluan
tinggal landas dan pendaratan
• Bahu landas : yang membatasi perkerasan stuktural yang berfungsi
untuk menahan erosi akibat air dan semburan jet.
• Area keamanan landasan (runway safety area) : meliputi perkerasan
stuktural.bahu landas, arean bebas halangan. Area ini harus dapat dilalui
peralatan pemadam kebakaran, mobil ambulan, eruk penyapu landasan (sweeper),
dan dalam kondisi memaksa mampu dibebani pesawat yag keluar dari perkerasan stuktural.
•
Blast pad : yaitu area yang direncanakan untuk mencegah erosi pada permukaan
yang berbatasan dengan ujung landasan berupa gebalan rumput.
• Perluasan area keamanan (safety area) : sesuai dengan kebutuhan
dan tingkat keselamatan yang diinginkan.
b. Landasan Penghubung (Taxiway)
Landasan pacu (taxiway)
adalah bagian dari bandara yang dignakan untuk menghubungkan landasan pacu
dengan apron atau antara suatu lokasi lainnya dalam kaitan dengan manuver
pesawat udara dengan menuju landasan pacu ataua sebaliknya. Fungsi dari sistem
landasan penghubung adalah untuk mengatur proses pergerakan pesawat terbang
dari apron menuju landasan pacu yang akan melakukan lepas landas (take-off)
maupun pesawat terbang setelah melakukan pendaratan (landing) dan meninggalkan
landasan pacu menuju apron. Hal yang mempengaruhi ukuran dari landasan
penghubung adalah panjang bentang sayap (wing span), jarak antar roda pendarat
utama (wheel tread), dan panjang badan pesawat terbang rencana.
Panjang
suatu landasan penghubung disesuaikan dengan kebutuhan operasional dan
kepadatan lalu lintas di bandara yang bersangkutan. Pada bandara yang ramai
traffic nya dilengkapi dengan pararel taxiway dan rapid exit taxiway guna dapat
menampung kepadatan arus lalu lintas serta mengurangi keterlambatan dan delay.
Kekuatan landasan
penghubung harus sama dengan kekuatan landasan pacunya jadi PCN Taxiway = PCN
Runway. Demikian juga pesawat udara yang melewati atau menggunakan landasan
penghubung harus mempunyai ACN sama tau lebih kecil dari PCN Taxiwaynya. Bila
pesawat udara yang melewati landasanpenghubung, ACN-nya lebih besar dari PCN
taxiway (misalnya ACN pesawat udara 501 sedngkan PCN taxiwaynya 401 maka akan
merusak landasan penghubung tersebut)
Yang termasuk sistem
landasan penghubung adalah :
• Exit Taxiway : landasan penghubung yang digunakan oleh
pesawat terbang setelah melakukan pendaratan untuk meninggalkan landasan pacu
menuju apron
• Entrance taxiway : landasan penghubung yang digunakan oleh pesawat
terbang bergerak dari apron menuju landasan pacu untuk melakukan lepas landas
• Holding Apron : yaitu apron yang dipergunakan untuk holding atau
Run Up atau Warm Up. Fasilitas ini dipergunakan untuk pemanasan mesin atau cek
akhir sambil menunggu perintah dari petugas lalu lintas udara (PLLU) untuk
start lepas landas maka pesawat berikutnya dapat mendahului.
• Holding Bay : yaitu apron yang tidak terlalu luas yang berlokasi
di lapngan terbang unuk parkir pesawat smentara untuk antrian gate kosong. Holding
bay diperlukan untuk kondisi lalu lintas pesawat yang tinggi sehingga kapasitas
gate sangat terbatas dan tidak mengganggu sirkulasi pesawat di area lapangan
terbang.
c. Apron
Apron adalah bagian dari
bandara yang digunakan untuk menempatkan pesawat udara yang menurunkan atau
memuat penumpang, kargo serta untuk keperluan pengisian bahan bakar pesawat
udara (refuelling), parkir pesawat udara atau perbaikan pesawat udara (Aircraft
maintanance).
Kekuatan PCN apron = kekuatan PCN runway. Luas
apron disesuaikan dengan kemampuan penampung pesawat udara pada waktu jam-jam
sibuk (peak hour). Misalnya pada jam-jam sibuk terdapat 4(empat) buah pesawat
jenis B-747 , 4(empat) buah pesawat jenis F-100, 5(lima) jenis B-737. Maka luas
apron yang tersedia harus dapat menampung sejumlah pesawat tersebut.
Pola permakiran Pesawat
Udara di Apron agar lebih efisien dapat menampung lebih banyak pesawat udara
yang menggunakan apron, pihak pengelola bandara perlu mengatur pola parkir atau
parking system pesawat udara di apron. Terdapat 4 (empat) pola parkir pesawat
udara diapron, yaitu :
• Nose-in Parking : Pesawat diparkir tegak lurus gedung terminal
dengan bagian depan pesawat berjarak sedekat mungkin dengan terminal.
• Angled Nose-in Parking : Pesawat diparkir dengan bagian depan
pesawat menyudut ke arah terminal.
• Angled Nose-out Parking : Pesawat diparkir dengan bagian depan
pesawat menyudut menjauhi gedung terminal.
• Paralel Parking : Pesawat diparkir sejajar gedung terminal.
Bentuk Apron ditentukan
oleh letak sekelompok pesawat yang diparkir terhadap bangunan terminal, yang
bentuknya antara lain adalah:
• Sistem Frontal : Pesawat diparkir sepanjang halaman mika gedung
terminal, hal ini memberikan jalan langsung dari pelataran depan gedung
terminal menuju pintu pesawat
• Sistem apron terbuka : Pesawat dan pelayanan pesawat letaknya
terpisah dari terminal
• Sistem Menjari ( Finger System ) : Letak pesawat diatur
mengelilingi sumbu terminal dalam suatu pengaturan sejajar atau bagian depan
pesawat mengarah ke terminal.
• Sistem Satelit : Sistem dimana sebuah gedung yang dikelilingi oleh
pesawat yang terpisah dari terminal dan biasanya dicapai melalui penghubung,
dan biasanya pesawat diparkir dalam posisi melingkar.
d. Gedung
atau Bangunan
Setiap bandara tentunya
memerlukan gedung atau bangunan yang berfungsi :
• untuk pelayanan penumpang : disediakan gedung terminal
• untuk pelayanan penerbangan : disediakan gedung operasi seperti
menara PLLU (tower) atau gedung untuk kegiatan unit-unit PLLU,
pelayanan,penerangan aeronautika, pelayanan meteorologi, pelayanan terhadap
penerbangan.
• Untuk fire fighting service (PKPPK)
• Untuk pemeliharaan pesawat
• Untuk menyediakan bahan bakar pesawat
Selain itu disediakan
gedung untuk pengelola bandara untuk pengurusan administrasi umum dan
komersial, administrasi operasi, administrasi teknik pemeliharaan bandara
dilengkapi dengan pas, pelayanan VIP maupun publik meliputi restoran,
pertokoan, pergudangan, hotel, dll sesuai dengan kebutuhan.
e. Terminal
Bangunan terminal adalah
suatu areal utama yang mempunyai interface antara landasan dan bagian lain dari
bandara. Banguanan terminal merupakan penghubung prasarana sisi udara dan sisi
darat pada sebuah badara. Pada bangunan ini terjadi beberapa kegiatan, yaitu :
• Arus penumpang yang akan melakukan perjalanan.
• Arus pengantar dan penjemput penumpang.
• Pengurusan bagasi.
• Administrasi yang berhubungan dengan penerbangan.
Berdasarkan fungsi
tersebut, bangunan terminal dibagi menjadi 4 bagian (Horonjeff, 1993), yaitu :
1. Akses Interface : Adalah bagian bangunan
terminal yang meliputi fasilitas untuk penumpang yang baru datang. Fasilitas -
fasilitas yang dibutuhkan antara lain :
• Tempat parkir kendaraan
• Trotoar untuk pejalan kaki
• Fasilitas - fasilitas untuk menurunkan barang
• Tempat pemberhentian angkutan umum
2. Proses : Adalah tempat dilakukannya persiapan
sebelum keberangkatan, yang memerlukan fasilitas - fasilitas sebagai berikut :
• Check in area dan tempat informasi penerbangan.
• Security check area.
• Tempat pengontrolan dan pengambilan bagasi
• Lobi umum, tempat kedatangan dan lalu lintas
penumpang,
• pengantar dan penjemput.
• Ruang keberangkatan sekaligus ruang tunggu
penumpang.
• Kamar kecil
• Fasilitas untuk penderita cacat / sakit
• Fasilitas - fasilitas tambahan, seperti kantin, telepon umum,
tempat
• informasi hotel dan biro perjalanan, kantor pos,
serta tempat
• ibadah.
3. Kawasan Penampungan : Pada umumnya sebagian
waktu penumpang di terminal lebih banyak dihabiskan di luar kawasan pemrosesan,
yakni pada saat penumpang menunggu serta periode antara berbagai kegiatan
pemrosesam. Dengan memperhatikan bahwa kawasan ini menghasilkan pendapatan yang
sangat berarti, maka perlu menyediakan tingkat pelayanan yang baik dan
menyenangkan. Adapun fasilitas yang perlu disediakan adalah kawasan yang
menampung publik, baik penumpang maupun pengantar. Diantaranya adalah :
• Kawasan yang menampung penumpang pada saat check in.
• Kawasan untuk penumpang menunggu sebelum berangkat.
• Kawasan pelayanan penumpang, berupa toilet,
mushola, telepon umum, ATM, dll.
• Kawasan penampungan pada saat penumpang datang,
sementara menunggu pengambilan begasi.
• Kawasan yang diperuntukan bagi penumpang VIP
• Kawasan khusus bagi pengantar dan penjemput.
4. Sirkulasi Internal : Sirkulasi internal dipersiapkan untuk
mengakomodasi pergerakan penumpang maupun bagasi. Pada prinsipnya penumpang
pada sirkulasi internal harus memberikan kemudahan, kejelasan dan kelancaran.
Konsep Terminal
• Single Level Road / Single Level Terminal
: Pada bentuk ini penumpang yang datang atau berangkat diproses dalam gedung
terminal pada lantai (floor) yang sama tetapi terpisah secara horizontal.
Penumpang yang boarding ke pesawat udara melalui tangga yang tersedia.
• Single Level Road / Double Level Terminal : Pada
bentuk ini penumpang yang datang atau berangkat diproses dalam gedung terminal
biasanya pada lantai yang setingkat dengan jalan (road level) dengan ruang
tunggu penumpangpada tingkat yang lebih tinggi , sehingga memungkinkan
penumpang yang naik pesawat udara melalui loading bridge (garbarata)
• Double Level Road / Double Level Terminal : Pada
bentuk ini jalan kendaraan untuk keberangkatan (departure) dan kedatangan
(arrival) berada pada tingkat (floor) yang berbeda. Untuk memisahkan
proses penumpang yang datang atau dimana tingkat yang lebih tinggi untuk
keberangkatan dan tingkat bawah untuk kedatangan
Konsep Terminal ditinjau
dari Segi Pengembangan Bandara
• Konsep Sederhana : Pada konsep sederhana bentuk
terminal namya merupakan suatu tempat untuk ruang tunggu dan counter ticket
penumpang. Bentuk terminal ini cocok untuk bandara dengan kepadatan lalulintas
yang rendah. Untuk keperluan airlines biasanya tempat parkir pesawat udara
dekat dengan terminal (close in parking) dengan mempertimbangkan pengaruh
hembusan angin bila digunakan system parkir nose in/nose out. Harus
diperhatikan bahwa jarak pesawat udara dengan terminal tidak terlalu jauh untuk
penupangg yang akan naik atau turun menuju ke terminal. Biasanya gedung
terminal hanya merupakan bangunan dengan single level stucture.
• Konsep Linear : Menurut konsep ini terminal
lebih luas dari simple consept yaitu dengan memperluas bagian depan apron,
gates, dan ruangan yang lebih luasuntuk keperluan penumpang(pemprosesan
penumpang). Menurut konsep terminal ini proses penumpang atau bagasi dapat
dilakukan pada bagian tengah terminal, tetapi jika letak pintu. Pintu terminal
terlalu jauh untuk penumpang berjalan maka dapat diatasi dengan pemasangan ban
berjalan (people movers). Permarkiran dengan system nose in/ nose out dengan
atau tanpa garbarata.
• Konsep Pier : Konsep ini mulai berkembang pada
tahun 1950, ketika jalur pintu masuk perlu diadakan pada simple central
building. Kemudian dikembangkan dengan bentuk yang lebih canggih, dibuat ruang
tunggu pada pintu-pintu masuk penumpang, garbarata (boarding bridge) dan secara
vertical terdapat pemisah antara fungsi checkin atau ticketing dengan fungsi
pengambilan bagasi. Konsep pier memudahkan bagi penumpang berjalan di central
building menuju pintu masuk pesawat udara diparkir sepanjang gedung pier.
Berbeda dengan konsep satelite, konsep ini pesawat udara diparkir secara
berkelompok diujung depan pintu masuk penumpang. Pada konsep ini penumpang baru
berjalan cukup jauh
• Konsep Satelite : Bangunan terminal pusat untuk
pemrosesan penumpang dan bagasi dan bangunan yang terletak agak jauh untuk
parkir pesawat. Bangunan tersebut disebut satellite dihubungkan dengan
terminal utama termasuk lantai bawah dan atas. Sistem mekanikal biasanya
digunakan untuk memindahkan penumpang antara satellite dan terminal
utama. Bagasi penumpang berangkat dikumpulkan di counter check-in
pusat dan diangkut ke area sortir bagasi kemudian diangkut ke pesewat
dengan mobil peralatan apron atau sitem mekanikal. Penumpang datang dan bagasi
mereka diproses dengan cara yang sama namun berlawanan
• Konsep Transporter : Transisi dari
landside ke airside untuk penumpang dan bagasi melalui bangunan
pusat dengan memakai mobil apron bagi penumpang ked an dari pesawat yang
teretak jauh dari bangunan terminal. Penumpang berangkat diproses pada area
pusat dan diterima di departure lounge yang umum ke mobil longe yang dekat yang
berfungsi sebagai ruang tunggu dan diangkut ke tempat parkir pesawat di
apron terbuka. Bagasi untuk seluruh penumpang berangkat diterima di
counter check-in pusat dan diangkut ke area sortir bagasi dari mana
diangkut lagi ke pesawat dengan mobil peralatan apron. Penumpang datang dan
bagasi diproleh dengan sistem yang sama namum berlawanan.
• Compact Modul Unit Terminal
B. Fasilitas Pokok Pendukung Operasi
Fasilitas pokok
pendukung operasi yaitu sarana pendukung bandara beroperasi berupa peralatan
yaitu :
1. Fasilitas navigasi penerbangan, antara
lain.
a. Non Directional Beacon (NDB)
b. Doppler VHF Omni Range (DVOR)
c. Distance Measuring Equipment (DME)
d. Runway Visual Range (RVR)
e. Instrument Landing System (ILS)
f. Radio Detection and Ranging (RADAR)
g. Very High Frequency-Direction Finder (VHF-DF)
h. Differential Global Positioning System (DGPS)
i. Automatic Dependent Surveillance (ADS)
j. Satelite Navigation System
k. Aerodrome Surface Detection Equipment
l. Very High Frequency Omnidirectional Range
2. Fasilitas alat Bantu pendaratan visual,
antara lain :
a. Marka dan rambu
b. Runway lighting
c. Taxiway lighting
d. Threshold lighting
e. Runway end lighting
f. Apron lighting
g. Prescision Approach path indicator (PAPI) / Visual
Approach slope indicator (VASI)
h. Rotating beacon
i. Apron flood light
j. Approach lighting system
k. Indicator and signaling device
l. Circling guidance light
m. Sequence flashing light
n. Runway lead in lighting system
o. Runway guard light
p. Road holding position light
3. Fasilitas komunikasi penerbangan, antara lain
:
a.
Komunikasi antar stasiun penerbangan (Aeronautical Fixed Service/AFS):
1. Very high
frequency (VHF) air ground communication
2. Automatic
Message Switcing Center (AMSC)
3. Aeronautical fixed telecommunication Network
(TELEX/AFTN)
4. High Frequency-Single Side Band
(HF-SSB)
5. Direct peech
6. Teleprinter
b.
Peralatan komunikasi lalu lintas penerbangan (Aeronautical Mobile Service/AMS)
:
1. High Frequency
Air Ground Comminication
2. Very High
Frequency Aier Ground Communication
3. Voice Switching
Communication System
4. Controller
pilot data link communication
5. Very High
Frequency Digital link
6. Integrated
Remote Control and monitoring System
7. Aerodrome
terminal information system
c. Transmisi :
1. Radio
Link
2. VSA
Disebut karena fasilitas
pokok diartikan sebagai fasilitas wajib ada atau tanpa fasilitas tersebut tidak
mungkin bandara beroperasi.
C. Fasilitas Penunjang Bandar
Fasilitas penunjang
bandar udara yang melipuri antara lain :
1. Penginapan / hotel
2. Penyediaan toko dan restoran
3. Fasilitas penempatan kendaraan bermotor
4. Fasilitas perawatan pada umumnya ( antara lain perawatan gedung
/ perkantoran, perawatan operasional)
5. Fasilitas Pergudangan
6. Fasilitas perbengkelan pesawat udara
7. Fasilitas hangar
8. Fasilitas pengelolaan limbah
9. Fasilitas lainnya yang menunjang secara langsung maupun tidak
langsung kegiatan Bandar udara.
No comments:
Post a Comment